Aturan Tilang bagi Kendaraan yang Tidak Dilengkapi Spion

Setiap kendaraan yang digunakan di jalan raya harus dilengkapi spion. Jika sepeda motor atau mobil tanpa dilengkapi spion ditemukan polisi atau tertangkap kamera tilang elektronik, pengendara akan kena tilang. Dendanya paling banyak adalah Rp250-500 ribu atau kurungan penjara maksimal 1-2 bulan.

Undang-Undang (UU) Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Nomor 22 Tahun 2009 menuliskan bahwa spion adalah perlengkapan wajib kendaraan bermotor. Fungsi vital spion sendiri adalah untuk mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas. 

Survei lalu lintas di Jepang menyatakan bahwa kendaraan tanpa spion berisiko 78% mengalami kecelakaan di jalan raya, daripada kendaraan yang dilengkapi spion. Namun, banyak warga Indonesia menganggap remeh penggunaan spion.

Pengendara sepeda motor adalah golongan yang kerap melepaskan spion kendaraannya. Ada anggapan bahwa motor tanpa spion tampak lebih keren. Pasalnya, motor racing di pertandingan MotoGP pun tak dilengkapi spion.

Anggapan ini jelas keliru. Sebab, dalam pertandingan MotoGP, perlengkapan keselamatan tetap diprioritaskan. Ada dokter dan perawat khusus yang siap siaga jika terjadi kecelakaan. Selain itu, pengendaranya pun adalah pembalap profesional terlatih.

Bagi pengendara pada umumnya, spion adalah perangkat keselamatan yang wajib ada di setiap kendaraan.. Spion ini penting untuk melihat kondisi samping atau belakang kendaraan sebelum memutuskan berbelok arah, putar jalur, atau hendak menepi.

Besaran Denda Tilang Kendaraan Tanpa Spion

Kaca spion adalah perlengkapan keamanan yang wajib terpasang di kendaraan bermotor. Polisi akan menilang pengendara yang abai dan melanggar aturan tersebut.

Untuk kendaraan roda empat, denda tilang karena tidak dilengkapi spion paling banyak adalah Rp500 ribu atau kurungan penjara maksimal dua bulan, sesuai dengan UU LLAJ 22/2009 pasal 285 ayat 1.

Sementara itu, kendaraan roda dua yang tidak dilengkapi spion akan kena denda maksimal Rp250 ribu atau kurungan penjara paling lama satu bulan, sebagaimana tertera pada ayat 2 di pasal sama.

Sebagai informasi juga, spion untuk kendaraan bermotor harus memenuhi standar kelayakan. Misalnya, kaca spion tidak boleh terlalu kecil dan tidak dilipat.

Bagi sepeda motor, kaca spion harus berada di atas stang, tidak di bagian bawah atau di samping stang. Model spion yang terakhir ini dikenal sebagai model jalu atau bar end. Penggunaannya sudah dilarang oleh pihak kepolisian.

“Untuk spion jelas harus sesuai dengan aturan, posisi spion harus berada di atas stang kendaraan bagi roda dua. Tidak boleh ada di bawah stang motor,” kata Kompol Lilik dari Kasatlantas Jakarta Pusat.

Biasanya, dimensi spion tidak layak ini (bar end) lebih kecil dan di bawah standar, serta menjadikan pandangan pengendara tidak leluasa.. Peletakannya juga tidak strategis sehingga menyulitkan pengendara melihat objek di belakang motornya.

Baca juga: Jangan Salah Ganti Spion Motor, Begini Aturannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *