4 Jenis Pelanggaran Lalu Lintas di Jalan Tol yang Kena ETLE

Jenis pelanggaran lalu lintas di jalan tol. (Foto: Asosiasi Jalan Tol Indonesia)

Penyelenggara jalan bebas hambatan, PT Jasa Marga sudah bekerja sama dengan Polda Metro Jaya untuk menerapkan tilang elektronik atau ETLE (Electronic Traffic Law Enforcement) di sejumlah ruas di jalan tol. Dengan demikian, pelanggaran lalu lintas tertentu otomatis terekam oleh kamera CCTV. Lantas, pelanggaran apa saja yang akan kena tilang elektronik?

Penerapan tilang elektronik di jalan tol ini bertujuan untuk menekan jumlah kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Berdasarkan penelitian yang dimuat di Jurnal Ilmu Kepolisian, sebanyak 65,6 persen tilang elektronik ini efektif menurunkan jumlah kecelakaan di Indonesia. Tidak hanya itu, pelanggar yang kena tilang pun cenderung kena efek jera daripada tilang konvensional. 

Tilang elektronik sendiri adalah penerapan kamera pemantau berteknologi canggih untuk mengontrol pelanggaran lalu lintas di sejumlah ruas jalan. Jika seseorang terkena tilang elektronik, lalu tidak membayar denda, maka sanksinya adalah pemblokiran Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

Pelanggaran Lalu Lintas Jalan Tol dan Besaran Dendanya

Setidaknya, terdapat empat jenis pelanggaran lalu lintas di jalan tol yang akan kena tilang elektronik. Setiap pelanggaran akan dibebankan denda berbeda-beda sesuai berat-ringannya pelanggaran yang dilakukan.

Besaran denda pelanggaran lalu lintas di bawah ini adalah jumlah denda maksimal berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Kendati demikian, tidak semua pelanggar akan memperoleh denda maksimal. Ketika pelanggar mematuhi proses peradilan dan tertib mematuhi sanksi-nya, maka pembayaran dendanya akan diringankan.

Berikut ini empat jenis pelanggaran lalu lintas yang berada dalam pantauan tilang elektronik di jalan tol dan besaran dendanya.

Menggunakan ponsel saat berkendara

Pengendara mobil yang menggunakan ponsel saat berkendara di jalan tol dianggap melanggar Pasal 283. Pelanggar diancam kurungan penjara maksimal 3 bulan atau denda Rp 750.000.

Tidak mengenakan sabuk pengaman atau seatbelt

Pengemudi atau penumpang yang duduk disamping pengemudi mobil tak mengenakan sabuk keselamatan dipidana kurungan paling lama sebulan atau denda paling banyak Rp250 ribu (Pasal 289).

Melanggar marka jalan

Bagi pengendara yang melanggar marka jalan tol akan didenda paling banyak Rp500 ribu atau dipidana kurungan paling lama dua bulan atau (Pasal 287 ayat 1).

Melanggar batas kecepatan 

Bagi pengendara yang melanggar aturan batas kecepatan paling tinggi atau paling rendah akan didenda paling banyak Rp500 ribu atau dipidana kurungan paling lama dua bulan (Pasal 287 ayat 5).

Batas kecepatan kendaraan di tol yang paling rendah adalah 60 kilometer per jam dalam kondisi arus bebas, serta paling tinggi 100 kilometer per jam.

Cara Kerja Tilang Elektronik di Jalan Tol

Tilang elektronik beroperasi dengan merekam dan memotret setiap pelanggaran lalu lintas di setiap ruas tol secara otomatis. Jika suatu kendaraan dianggap telah melakukan pelanggaran, maka pengendara bersangkutan akan diberi tahu penilangannya melalui pesan elektronik atau surat konfirmasi yang diantarkan ke alamatnya.

Baca juga: Apa Itu Tilang CCTV dan Bagaimana Mengurusnya?

Sanksi tilang elektronik adalah sebagaimana disebutkan di atas. Lantas, bagaimana jika pelanggar tidak taat aturan dan tidak mau membayar dendanya? 

Apabila pelanggar benar-benar bersalah dan enggan melunasi denda tilangnya, maka Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) pelanggar akan diblokir sampai ia melunasi denda tilang tersebut.

Cara kerja dan mengurus tilang elektronik ini dijelaskan oleh laman Korlantas Polri dalam beberapa tahap.

Pertama, kamera elektronik di jalan tol akan merekam dan memotret setiap pelanggaran lalu lintas pada lokasi yang sudah ditentukan. Dari hasil rekaman itu, petugas akan mengidentifikasi plat nomor dan data kendaraan menggunakan Electronic Registration & Identification (ERI).

Kedua, setelah alamat pelanggar sudah diketahui, petugas akan mengirimkan surat konfirmasi via pos ke pemilik kendaraan bermotor untuk konfirmasi atas pelanggaran yang terjadi. Surat konfirmasi adalah dasar untuk penindakan tilang tersebut. Batas konfirmasi setelah menerima surat itu adalah delapan hari. 

Ketiga, pelanggar harus melakukan konfirmasi melalui situs web yang disebutkan di surat konfirmasi tersebut, atau datang langsung ke kantor Sub Direktorat Penegakan Hukum. Jika kendaraan yang dimaksud bukan kendaraan miliknya, maka ia harus menyampaikannya ke pihak kepolisian.

Keempat, Usai pelanggaran terkonfirmasi, petugas akan menerbitkan tilang. Selanjutnya, pembayaran tilang dilakukan via BRI Virtual Account (BRIVA) dengan kode pembayaran untuk pelanggaran yang terverifikasi dalam penegakan hukum.

Bagi pelanggar lalu lintas yang ragu apakah ia kena tilang atau tidak, ia dapat memeriksa sendiri di situs web https://etle-pmj.info.

Penerapan tilang elektronik di jalan tol ini diharapkan dapat mendisiplinkan masyarakat dalam menaati aturan lalu lintas, serta menekan jumlah kecelakaan lalu lintas di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *